Bulan Asyuroh Bulan Hari Raya Seluruh Nabi – Nabi Sebelum Nabi Muhammad

- Penulis

Selasa, 16 Juni 2026 - 08:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

RADARMERDEKA.id_, ROHUL, Bulan Asyuroh mengandung pristiwa – pristiwa yang bermakna yaitu diterimanya taubat nya 11 Nabi, mulai dari Nabiyulloh ADM sampai Nabiyulloh ‘ISA ‘Alaihis salam. Setiap kali tanggal 1 Muharram tiba, suasana pergantian tahun dalam Islam hadir dengan kesederhanaan. Tidak ada pesta meriah, hitung mundur, ataupun gemerlap kembang api. Namun, justru dalam ketenangan itulah tersimpan makna mendalam yang membedakan Tahun Baru Islam dengan perayaan pergantian tahun lainnya.

 

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagi umat Muslim, Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, melainkan momentum untuk melakukan refleksi, memperbaiki diri, serta mengenang perjalanan sejarah besar yang menjadi tonggak peradaban Islam.

 

Sejarah mencatat, kalender Hijriah yang digunakan umat Islam hingga saat ini resmi ditetapkan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA sekitar tahun 17 Hijriah atau 638 Masehi. Sebelum itu, belum ada sistem penanggalan yang seragam sehingga sering menimbulkan kebingungan dalam berbagai urusan pemerintahan dan surat-menyurat.

 

penanggalan yang baku kemudian melahirkan musyawarah para sahabat untuk menentukan titik awal kalender Islam. Berbagai usulan pun muncul, mulai dari tahun kelahiran hingga tahun wafat Rasulullah SAW. Namun akhirnya, para sahabat sepakat menjadikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi sebagai awal kalender Hijriah.

 

Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Hijrah menjadi simbol perubahan besar dalam sejarah Islam. Sebelum hijrah, umat Islam berada dalam tekanan dan berbagai bentuk penindasan. Namun setelah hijrah ke Madinah, Islam tumbuh menjadi kekuatan yang mampu membangun masyarakat dan peradaban yang berlandaskan nilai keadilan serta persaudaraan.

 

Karena itu, hijrah bukan hanya perpindahan tempat, tetapi juga lambang keberanian untuk berubah menuju kehidupan yang lebih baik. Semangat inilah yang terus diwariskan kepada umat Islam dari generasi ke generasi.

Baca Juga:  Dorong Konektivitas Daerah, Jalan Rohul - Padang Lawas di Targetkan Jadi Jalan Nasional 2027

 

Lebih dari sekadar pergantian tahun, 1 Muharram menjadi momentum muhasabah atau introspeksi diri. Islam mengajarkan setiap manusia untuk mengevaluasi perjalanan hidupnya dan mempersiapkan bekal terbaik untuk masa depan.

 

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 18, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”

 

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa pergantian tahun hendaknya dimaknai sebagai kesempatan untuk memperbaiki kualitas iman, meningkatkan amal kebaikan, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

 

Dalam syariat Islam, tidak terdapat ibadah khusus untuk merayakan Tahun Baru Hijriah. Namun, umat Islam dianjurkan mengisinya dengan berbagai amalan yang bernilai ibadah, seperti memperbanyak doa, memperbanyak istighfar, bersedekah, serta menjalankan puasa sunnah di bulan Muharram, terutama puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.

 

Dengan demikian, Tahun Baru Islam 1 Muharram sejatinya menjadi pengingat bahwa setiap pergantian waktu adalah kesempatan untuk berhijrah menuju pribadi yang lebih baik. Sebab, makna sesungguhnya dari tahun baru dalam Islam bukanlah euforia sesaat, melainkan perubahan diri, penguatan iman, dan tekad untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna di hadapan Allah Yang Maha Tunggal.

 

(Sungkono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel radarmerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Semarak HUT RI ke-81, Kades Sontang Zulfahrianto Lepas Ribuan Peserta Jalan Santai
Jumnas XII 3926 Bergulir di Cibubur, Bupati Anton Turut Hadir
Aktivitas PETI Terbuka di Jalan Sungai Buluh Candika, Rimbo Tengah: Instansi Diduga Tutup Mata, Beroperasi Dekat Masjid
Tambang Emas “Lubang Tikus” di Limbur Beroperasi Lama, Diduga Tak Tersentuh Hukum
Aktivitas PETI Merajalela Di Wilayah Tanjung Menanti, Pinggiran Kota Bungo
Kelompok Tani Reboisasi Mandiri Hutan Lindung Sei Mahato, Kembali Bangkit Tanam Pohon Penghijauan
Ketua DPRD Provinsi Jambi M.Hafiz Mengakui, Penertiban Tambang ILegal Bukan Persoalan Sederhana Dan Membutuhkan Keterlibatan Seluruh Pihak.
Aliran Sungai Batang Asam Jernih Dan Bersih Patut Di Apresiasi Oleh Pemerintah Daerah Bungo Dan Patut Dijadikan Contoh Bagi Desa lainnya.
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:44 WIB

Semarak HUT RI ke-81, Kades Sontang Zulfahrianto Lepas Ribuan Peserta Jalan Santai

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 05:03 WIB

Jumnas XII 3926 Bergulir di Cibubur, Bupati Anton Turut Hadir

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 04:39 WIB

Aktivitas PETI Terbuka di Jalan Sungai Buluh Candika, Rimbo Tengah: Instansi Diduga Tutup Mata, Beroperasi Dekat Masjid

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 03:47 WIB

Tambang Emas “Lubang Tikus” di Limbur Beroperasi Lama, Diduga Tak Tersentuh Hukum

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 03:02 WIB

Aktivitas PETI Merajalela Di Wilayah Tanjung Menanti, Pinggiran Kota Bungo

Berita Terbaru

Uncategorized

Jumnas XII 3926 Bergulir di Cibubur, Bupati Anton Turut Hadir

Sabtu, 15 Agu 2026 - 05:03 WIB